DV RUN 2016

Nama: Wulandari Fera Yanti

NIM: 1701298775

Jurusan: International Business and Management (IBM)

Nomor Peserta: 10843

 

Halo!

Tanggal 4 Desember lalu, saya mengikuti kegiatan lari sejauh 5 kilometer di Ancol, Jakarta Utara, yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi kemahasiswaan BINUS University, yaitu KMBD. Acaranya bernama DV Run 2016: Unleash the Hero in You.

Acara apa itu? Kedengerannya menarik.

Yup! Walaupun ini acara lari seperti ini sudah mainstream, tapi ada sisi sosial yang ditanam di dalamnya.

Awalnya saya sendiri kurang paham acara ini fokus di nilai sosial yang mana. Beda dengan Run for Leprosy yang sudah jelas bertujuan untuk menyemangati orang-orang yang telah sembuh dari penyakit kusta agar dapat hidup seperti orang-orang lainnya, marketing acara ini tidak menjelaskan community service apa yang kami ikuti. Yah, ini bisa jadi masukan untuk acara DV Run selanjutnya.

Lalu kenapa saya mau daftar menjadi peserta lari?

Saya tidak suka lari. Saya juga tidak paham fokus sosialnya ada di sebelah mana acara ini. Tapi saya tetap ikut karena untuk melengkapi poin community service yang masih kurang dari 30 jam padahal sudah semester tua. Saya sih jujur saja ya kalau butuh poin community service. Hahahaha. Toh 90% ikut juga karena ada poinnya.

Walaupun niatan saya jelek, tapi bukan berarti saya tidak dapat apa-apa. Selama proses kegiatan, saya mendapat sebuah gambaran idealis tentang lingkungan yang cocok untuk ditinggali oleh orang-orang, baik dari bayi hingga lansia.

Di hari H, saya datang bersama kedua teman saya (Desy dan Nusaibah). Kami tiba jam 6 pagi lewat sedikit dan menunggu acara yang dimulai jam 7 di dalam mobil. Tidak ada yang spesial di situ selain hujan turun sebelum acara berlangsung.

img_2345

Setelah kegiatan dimulai, Nusa berlari meninggalkan saya dan Desy yang lebih memilih jalan kaki dibandingkan jogging atau lari. Alasan saya, selain karena tidak suka lari, hari itu jempol kaki saya sedang bengkak sehingga tidak bisa memaksakan diri untuk berlari.

p_20161204_071648

p_20161204_075545_ll-01

Dari berjalan itulah saya mendapatkan gambaran idealis yang saya bilang sebelumnya. Apakah itu?

Para peserta lari harus melewati beberapa wilayah Ancol dan suasana yang didapat selama perjalanan sangat menyenangkan. Terdengar berlebihan. Tapi jika biasa melewati jalanan Jabodetabek yang sumpek dan tidak terawat, pengalaman berjalan sepanjang jalur lari menjadi sesuatu yang berbeda. Ada taman bermain anak-anak, jalur panjang melewati bibir pantai, taman rekreasi, dan sebagainya. Dan saat itu saya berpikir, “Akan lebih baik seandainya lingkungan Jakarta dan sekitarnya bisa sebaik ini. Anak-anak bermain aktif di taman bermain, orang-orang dewasa berkumpul dan olahraga bersama, dan para lansia bisa menikmati pemandangan laut yang menyegarkan setiap pagi.” Terlebih lagi, tidak ada pengemis dan pengamen yang mengisi sudut-sudut jalan. Semuanya tertata selayaknya kota yang seharusnya.

p_20161204_075100-01

Setelah lebih dari satu jam berjalan, saya dan Desy akhirnya sampai di garis finish. Lucunya, ketika sampai dan mematikan Google Fit yang saya gunakan untuk memantau pergerakan selama jalan, saya mendapati bahwa jaraknya 7 kilometer, bukan hanya 5 kilometer seperti yang seharusnya. Entah Google Fit yang salah memperkirakan jarak atau memang sebetulnya jarak yang ditempuh 7 kilometer.

img_2322

 

Setelah selesai, kami bertiga langsung pergi karena harus makan sesegera mungkin. Dan di situlah akhir dari kegiatan kami.

Hasil kegiatan:

Kebetulan sekali apa yang saya pikirkan selama di perjalanan dan fokus sosial yang ditanamkan di kegiatan DV Run (yang baru saya ketahui dari kriteria penulisan blog) ternyata sejalan. Ya! Tertanya fokus utama kegiatan ini adalah pemberdayaan anak-anak jalanan dan motivasi apa yang dapat diberikan kepada para anak jalanan serta aktivis-aktivis sosial di baliknya.

Untuk mencapai gambaran idealis tersebut butuh banyak pengorbanan dan kerja keras. Anak-anak jalanan yang sering kita lihat di lampu merah atau tempat lainnya adalah anak-anak yang tidak sempat menyicipi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara baik. Tapi bukan berarti mereka harus pasrah begitu saja. Buktinya banyak anak-anak jalanan yang telah sukses. Bukan hanya sukses untuk diri mereka, tetapi juga semangat untuk menyukseskan para anak jalanan lainnya. Jika semua anak jalanan punya semangat juang yang tinggi, maka tidak perlu ketergantungan oleh orang lain dan pemerintah. Keterbatasan yang dimiliki anak jalanan juga bisa menjadi ladang kreativitas tanpa batas yang tidak dimiliki oleh anak-anak dari kalangan berada (yang lebih suka membeli dibandingkan membuat sendiri).

Untuk para aktivis kemanusiaan yang berjuang mati-matian demi para anak jalanan, kalian sungguh hebat. Saya tidak punya kata yang tepat selain satu kata itu. Hebat. Ya, ketika yang lain memikirkan diri sendiri, mereka justru memikirkan anak-anak di jalanan yang membutuhkan lingkungan ideal demi tumbuh kembangnya. Memang tidak persis sama dengan gambaran ideal tersebut, tetapi menciptakan lingkungan yang memiliki karakter positif sudah cukup mewakili gambaran tersebut.

Ada sebuah tempat yang cocok sebagai sarana bermain dan belajar bagi anak-anak jalanan di Kota Tangerang. Namanya Rumah Tawon. Beberapa kali saya ke sana untuk mengajari mereka pencak silat bersama teman-teman saya. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi suasananya menyenangkan dengan gelak tawa anak-anak yang bebas. Ada banyak komunitas yang mengunjungi tempat tersebut sehingga para anak dapat belajar hal-hal baru, seperti pencak silat, bermain musik, dan edukasi kesehatan.

_mg_7742

LOGO TFI HIGH RESS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s